Oleh : Manik Priandani, Bontang
Kejadian bak cowboy yang dilakukan oleh seorang remaja di salah satu negeri Skandinavia yaitu Norwegia baru-baru ini, tepatnya Oslo mengingatkanku kembali akan negeri-negeri Skandinavia yang tenang, aman, dan indah seperti Norwegia, Swedia, Denmark, dan Finlandia . Ketenaran dan cerita tentang Turning Torso (Gedung Terpuntir) dan Oresund Bridge (jembatan penghubung Malmo – Kopenhagen) juga mengingatkanku dengan kota Malmo, kota “tempat tinggal”-ku selama sebulan pada empat belas (14) tahun lalu.
Aku berada di Malmo dari tanggal 01 April s/d 02 Mei 1997 untuk mengikuti Pelatihan Konservasi Energy pada Industri yang diselenggarakan oleh Pemerintah Swedia. Pelatihan tersebut ditujukan bagi calon manager dan engineer dari negara-negara berkembang.
Segera setelah aku dan temanku (Yani) terpilih mengikuti program tersebut, kami meng-arrage perjalanan menuju ke sana. Dari informasi yang disampaikan ke kami, bahwa Malmo adalah bagian Negara Swedia yang indah. Letaknya berdekatan dengan Kobenhavn atau Copenhagen, Denmark.
Kami berangkat dari Jakarta pada hari Minggu malam, tanggal 30 Maret 1997 dengan naik pesawat KLM ((Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) Belanda. Pesawat transit sebentar di sebuah kota di Afrika (aku lupa kotanya karena kami tidak sempat turun dan saat itu tengah malam), dilanjutkan ke Amsterdam. Di Bandara Schiphol Amsterdam kami pindah pesawat, kemudian dilanjutkan menuju Stockholm.
Dalam perjalanan dari Amsterdam ke Stcokholm, kami disuguhi snack yang sangat enak yaitu coklat asli yang mmmhhh...sedap... Ini dia, pas banget buatku. Sampai aku simpan satu potong untuk kumakan nanti kalau sampai di Stockholm. Dan saat pesawat kami berada di atas negeri Skandinavia ini, aku terkagum-kagum dengan pemandangan negeri Swedia dari atas angkasa. Terlihat sungai-sungai dan danau-danau biru bertebaran menghiasi bumi Swedia dan dikelilingi oleh pepohonan hijau di bawah sana. Banyak sekali “lubang-lubang” air berwarna biru di sana. Wow seperti ini to Swedia. Negeri penuh danau dan fjord. Indah sekaligus mendebarkan.
Mendaratlah kami di Bandara Arlanda, Stockholm. Awalnya kami mengira akan dijemput oleh panitia penyelenggara, namun tidak terlihat seorangpun yang menjemput kami. Akhirnya kami membeli tiket sendiri untuk penerbangan ke Malmo.
Mejeng di Arlanda, Stockholm sebelum terbang ke Malmo.
Maskapai penerbangan lokal dari Stockholm menuju Malmo terlihat cukup banyak. Counter penjualan tiketnya juga dekat dengan ruang kedatangan. Kelihatannya Malmo merupakan tempat favorit di sana. Daripada berlama-lama di Stockholm tanpa kenal siapapun, akhirnya kami naik pesawat local yang berangkat kurang dari 1 jam kemudian. Di sinilah uang Krona (Swedish Crowns / SEK) kami sudah berfungsi (Untungnya aku sempat menukarkan sedikit uang dari Rupiah ke Krona di money changer di daerah Gunung Agung Cut Mutia Jakarta). Kartu Amex-ku belum berani aku pakai. Maklum masih demam panggung pergi ke Eropa pertama kalinya (walau sudah aku pakai saat ke Amrik dua tahun lalu). Tiket ke Malmo seharga USD 130 atau 80 poundsterling atau =130 x 7.20 krona = 936 Krona. Karena 1 USD = SEK 7.20. Kalau dirupiahkan waktu itu 1 USD = Rp. 2.600,- (sebelum krisis, dan Pak Suharto masih menjabat sebagai Presiden); 130 x Rp. 2.600,- = Rp. 338.000,-. Sedangkan bila turun di Copenhagen (pastinya tiket lebih murah dibandingkan turun di Stockholm), kami hanya perlu menyediakan uang sebanyak 100 SEK = 14 USD = Rp. 36.000,- saja untuk naik bus dan ferry menuju Malmo. Wow harga tiket pesawat Stockholm – Malmo dibandingkan naik ferry dari Kopenhagen – Malmo berbanding 10 kali. Sayang banget sebenarnya.
Kami baru “ngeh” setelah melihat di peta letak Malmo terhadap Stockholm, sebenarnya kami lebih dekat terbang ke Kopenhagen, Denmark, baru kemudian menyeberang ke Malmo; tidak ke Stockholm dulu. Padahal dalam surat yang dikirim oleh panitia, sudah disebutkan sebaiknya kami mendarat di Bandara Kastrup, Copenhagen saja. Namun dengan pertimbangan visa masuk kami adalah ke Negara Swedia bukan ke Denmark, jadinya kami ke Stockholm. Walau memang terkesan bolak-balik, tidak efisien. Konyolnya, kami sudah terlanjur beli tiket pulang dengan route yang sama, hanya kebalikkannya : Malmo – Stockholm – Amsterdam – Jakarta. Tidak hemat di waktu maupun biaya. Walau kami baru saja menerima pelatihan tentang Konservasi Energy….hehehe.
Penerbangan Stockholm ke Malmo memerlukan waktu sekitar 1 jam. Kami naik maskapai penerbangan local SAS (Scandinavian Airlines System). Sampailah kami di Bandara Malmo pada hari Senin, 31 Maret 1997 berbareng dengan rombongan anak-anak yang kelihatannya sedang berlibur ke Malmo. Mereka membawa peralatan sky yang dibungkus seperti peralatan golf. Kelihatannya ada juga yang akan bergolf ria di Malmo. Setelah mengambil bagasi kami langsung menuju taxi yang ada di Bandara. Kami menuju ke alamat yang telah disebutkan oleh panitia penyelenggara yaitu ke Garden Hotel di jalan Baltzarsgatan 20, Malmo. Kiranya Hotel ini cukup terkenal di kalangan sopir taxi. Karena taxi langsung saja tancap gas dan sampai persis di depan Hotel.
Malmo, Senin, 31 Maret 1997
Sampailah di kota Malmo di pagi hari sekitar jam 10 pagi. Kami sempatkan untuk meluruskan badan dan melepas lelah di kamar hotel yang didesain klasik (seperti rumah-rumah orang Eropa pada umumnya) dengan memandang taman atap yang terlihat dari jendela kamar. Sore harinya, saya menerima telpon dari Mbak Sri, seorang Indonesia yang berasal dari Riau dan bersuamikan orang Swedia, yang mendapat info ada tamu dari Indonesia (dari Kedubes Indonesia) di Malmo. Sebenarnya ini telepon kejutan. Aku tidak mengira sama sekali. Lha wong rasanya nggak punya saudara atau kenalan di Malmo ini.
Ruang sarapan pagi dan kamar First Garden Hotel (diambil dari internet)
Mbak Sri langsung menyapa di telpon dengan ramah, bahkan dengan penuh kekeluargaan “mengirim” suaminya menjemput kami ke Hotel dan mengajak kami bertandang ke rumah Mbak Sri dengan berjalan kaki dari Hotel. Alhamdulillah, demikian baik dan eratnya persaudaraan antar Bangsa Indonesia ini. Semuanya merasa satu keluarga, satu saudara. Selanjutnya, selama di Malmo, keluarga Mbak Sri dan teman-teman yang ada di sana (yang sekolah, bekerja, dsb-nya) sangat perhatian ke kami.
Alun-Alun Malmo
Patung Kuda dan Pangeran di Hedmaska Garden
Garden Hotel, Malmo
Hotel kami ini benar-benar di pusat kota, bahkan mungkin km-0-nya kota Malmo. Dekat sekali dengan alun-alun kota (disebut Hedmaska Garden) dan Lilla Torg. Berjalan kaki hanya 5 menit ke sana. Jalan di depan Hotel beraspal sangat hitam dan sebagian berpaving (block). Gedung-gedung sekitarnya adalah gedung-gedung bata merah yang elok. Garden Hotel terletak berdempetan dengan toko-toko, jadi mirip apartemen. Andai tidak ditulisi Garden Hotel banyak orang yang mengira bahwa ini adalah ruko besar. Aku masuk ke Hotel dengan harapan ada bell boy yang membantu membawakan koperku. Aku tengak-tengok berkeliling, yang terlihat hanya seorang resepsionis Hotel : seorang pria setengah baya (bahkan terlihat sudah “sepuh”) melihat kami dan mengangguk dengan wajah datar. Dia tahu kami adalah peserta pelatihan dari nama yang kami sebutkan. Setelah urusan administrasi singkat kami lakukan, langsung resepsionis tersebut keluar dari meja resepsionis dan mengantar / menunjukkan di mana kamar kami. Wow, efisien sekali di sini. Pegawai Hotel hanya satu, merangkap resepsionis, bell boy, ds-nya.
Lilla Torg
Sesuai dengan namanya, Hotel ini didesain seperti taman. Terdiri dari 3 lantai dan memiliki kamar yang cukup banyak. Bangunan bertingkat berbentuk persegi dan di atap Hotel dibuat taman bahkan ditanami pohon. Tanaman indah tumbuh sampai atap lantai paling atas. Taman ini di hari kedua menjadi tempat berfoto dan ber-narsis ria para trainee di atas salju yang waktu itu jatuh menggunung di sini (walau saat itu sudah masuk musim semi). Saat itu, kami ber-28 orang sudah mulai akrab satu dengan yang lain.
Bagaimana kabar Hotel Garden yang saya inapi dulu itu? Dari internet terbaca bahwa kini nama Hotel Garden ditambahi dengan kata “First” di depannya menjadi First Garden Hotel, karena di dekatnya berdiri juga Grand Hotel Garden yang mungkin menjadi Hotel generasi berikutnya.
Malmo, Kota Cantik Bersebelahan dengan Kobenhavn, Denmark
Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia. Terletak di bagian paling selatan Swedia dengan koordinat 13°00' Bujur Timur and 55°35' Lintang Utara. Malmo berbatasan langsung dengan Denmark yang terpisahkan oleh selat Oresund dan laut Baltik. Banyak orang yang datang ke Swedia lewat Malmo. Karena ibukota Swedia, Stockholm, berada di Swedia Utara. Jadi jika kita akan ke Swedia Selatan atau ke Malmo ini memang lebih baik naik pesawat turun Copenhagen-Denmark, kemudian ke Swedia-nya naik ferry (sekarang sudah ada jembatan Oresund). Jauh lebih dekat. Sayangnya kami berdua tidak mencari informasi sebelumnya, jadi bolak-balik deh. Malmo sebuah kotamadya dari provinsi Skane dan merupakan salah satu kota Industri di Swedia. Jadi sangatlah tepat bila pelatihan kami diselenggarakan di kota ini.
Malmo didirikan pada tahun 1275, dan berasal dari kata Malmhaug yang artinya Gravel Pile atau Gundukan Kerikil (benar terlihat seperti itu saat aku memandang ke selat Oresund yang penuh dengan pasir putih di pantainya). Konon selat ini bisa dilewati oleh kendaraan pada saat musim dingin karena membeku menjadi es. Lalu aku teringat cerita yang berjudul Si Kaus Tangan Biru (karangan HC Andersen). Mungkin HC Andersen terinspirasi ketika melihat selat ini.
Di abad 15, Malmo adalah salah satu kota besar Denmark, bukan milik Swedia. Namun pada abad 17, Malmo menjadi bagian dari Swedia. Di bawah pemerintahan Swedia, Malmo semakin maju sebagai kota industri sejak dibangun jalur rel kereta pada tahun 1850-1870. Setelah itu dibangun pabrik-pabrik dan galangan kapal yang menyerap tenaga kerja sangat banyak waktu itu. Populasi penduduk juga meningkat, hingga tahun 1971 mencapai 265.000 jiwa. Jumlah ini hampir tidak bertambah hingga saat kami di sana.
Malmo dan sebagian kota-kota di selatan Swedia mempunyai iklim Oceanic yaitu sejenis iklim yang lazimnya dialami daerah di sepanjang pantai barat pada garis lintang pertengahan di semua belahan benua di dunia, misalnya di tenggara Australia. Iklim ini ciri-cirinya adalah daerah tersebut mengalami rata-rata suhu tahunan yang lebih sempit dibanding tempat-tempat lain pada garis lintang yang sama dan tidak mengalami musim panas yang sangat kering seperti yang dialami oleh iklim Mediterania. Biasanya siangnya bisa sampai mencapai 17 jam pada pertengahan summer dan hanya 7 jam pada pertengahan winter. Suhu terpanas cuma 22 °C (summer) dan suhu terendah bisa mencapai -10°C (winter).
Nah pada saat kami di sana persis musim semi. Kami mendapat informasi di musim semi ini temperatur berkisar antara 5 - 15C. Pada waktu malam, udara cukup dingin. Dan sehari-harinya akan sering turun hujan dan berangin. Jadi kami disarankan untuk membawa baju hangat, sepatu dengan sole tebal, dan pullover yang tebal. Namanya juga baru kali ini harus mencari baju hangat, kami di Jakarta sempat mencari di Pasar Raya. Ketemunya hanya warna merah pakai kerah rumbai-rumbai (kayak yang dipakai artis-artis Hongkong...hehehe). Jadi aku dan Yani kompak pakai warna merah. Kelihatan kayak anak dari panti asuhan atau anak kembar lain ayah lain ibu.
Di musim semi ini, sinar merah matahari masih juga terlihat walau jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Kemudian warna merah langsung menghilang di tengah malam, dan tidak berapa lama muncul lagi. Terus terang, saya agak kebingungan saat harus menentukan masuknya waktu sholat Maghrib, Isya’, dan Subuh.
Arsitektur Kota Malmo
Meskipun Malmo merupakan kota Industri, tetapi pemerintah Malmo juga sangat menjaga bangunan tuanya. Biasanya bangunan baru yang modern berada di blok baru yaitu Vastra Hammen, sebelah barat pelabuhan Malmo, yang merupakan perluasan kota, sedangkan yang tua, masih berada ditengah kota dan dipertahankan sebagai ikon kota.
Malmo City Hall
Arsitektur tua di Malmo biasanya tipikal Scanian akan tetapi pengaruh arsitektur Denmark sangat kuat. Arsitektur modern di Malmo juga cukup maju. Saat itu belum ada bangunan modern Turning Torso, bangunan tinggi terpuntir itu. Maklum Turning Torso baru selesai pada tanggal 27 Agustus 2005 dan jembatan Oresund sedang dalam masa konstruksi.
Konstruksi jembatan Oresund dimulai pada tahun 1995 dan selesai pada tanggal 14 Agustus 1999. Sementara aku hanya berada di sana selama April 1997! (to be continued to part 2).
Note : Mohon maaf foto-fotonya bluur...biasa...nggak pernah serius belajar memfoto....jadi saat ini yang penting ceritanya. Karena banyak koleksi foto yang saat ini entah ke mana, jadi foto tentang (First) Garden Hotel-nya diambil dari internet. Suasana dan bentuk Hotel tidak jauh berbeda pada saat aku menginap di sana.
Bontang, 06 Agustus 2011 (mengingat-ingat kejadian 14 tahun lalu)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar