Hari Senin tanggal 31 Maret 1997 tiba di Malmo. Saat itu Malmo musim semi. Malamnya harus tidur memakai baju minimal dua lapis. Baju monyet sebagai baju lapis pertama, baju biasa yang agak tebal untuk lapis kedua, kemudian pakai selimut. Kalau masih dingin dirangkepin sweater. Maklum wong ndeso yang datang dari daerah tropis. Harus tidur beneran, walau agak jet lag (merasa agak masuk angin,ngantuk, dan pusing), tetapi dengan tidur yang cukup insyaallah rasa itu akan hilang. Siap-siap untuk mulai mengikuti pelatihan besok Selasa, 1 April 1997 di kantor AF Energikonsult AB, jalan Stensjogatan no.3 S-219 65 Malmo.
Selasa, 1 April 1997
Pagi hari, panitia penyelenggara berkenalan dan menemui kami di Conference Room Garden Hotel, Baltzar no.1. Setelah perkenalan, kami diajak jalan ke terminal Bus menuju ke kantor AF-Energikonsult Syd AB oleh Manager dan Wakil Manager kantor tersebut yaitu Mr. Bertil Ahlbeck dan Ms. Ǻsa Hagelin. Keduanya sosok yang ramah, bersahabat, dan rendah hati. Ǻsa sangat peduli lingkungan. Saat itu, Gadis lajang yang masih cukup muda ini ke mana-mana naik sepeda pancal. Bahkan ini kendaraan sehari-harinya menuju kantor. Ini tahun 1997 lho!
Terminal bus sekitar 200 meter dari Hotel. Letaknya berlawanan arah dengan alun-alun (Hedmaska Garden) maupun Lilla Torg. Jarak yang kami tempuh ke kantor dengan naik bus ini tidak lebih dari 10 menit. Setelah berkeliling kantor, kami masuk ke ruang pelatihan. Pelatihan dimulai dengan perkenalan dan keterangan kegiatan secara umum. Dan disepakati bahwa pelatihan setiap hari selesai pada sekitar jam 16.30. Sabtu dan Minggu libur (acara bebas), kecuali ada kegiatan bersama-sama yang diselenggarakan oleh panitia.
Malam harinya diselenggarakan Welcome Dinner di restoran Garden Hotel. Acara usai sekitar jam 21.00. Sebagian teman-teman melanjutkannya sampai malam. Kami diundang teman-teman yang berasal dari Amerika Selatan untuk bersalsa ria. Mereka akan siap mengajari. Bagus pastinya. Namun kami merasa terlalu lelah. Kami ijin tidak ikut karena kami ingin tidur terlebih dahulu agar besok dapat mengikuti pelajaran tanpa terkantuk-kantuk. Hehehe...kayak murid yang serius saja. Yang jelas, agaknya acara kumpul-kumpul dilakukan sampai lewat tengah malam, karena di sekitar jam 02.00 pagi terdengar suara ramai dan gaduh di lorong Hotel kami, dan sepertinya ada yang agak sempoyongan karena terlalu banyak meminum minuman selebrasi. Aku semakin menarik selimut sampai ke kepala.
Rabu, 2 April 1997
Hari itu kami sudah mendapat jatah tiket bus kota menuju kantor dari Hotel Garden ke kantor AF-Energikonsult Syd AB pulang pergi. Tiket bulanan ini berupa kartu yang bertuliskan Lanstrafiken Malmohus berwarna dasar ungu. Rasnya kembali menjadi mahasiswa lagi.
Di depan kantor AF-Energikonsult Syd AB, Swedia
Presentasi tentang Indonesia dan Perusahaan
Kegiatan hari itu selain mendengarkan pelajaran pendahuluan maupun beberapa proyek tentang Konservasi Energi di Nicaragua dan Uruguay oleh AF, selain itu memaparkan pekerjaan keseharian kami dan memperkenalkan Perusahaan kami masing-masing. Oh ya, kami ber-28 orang, seharusnya 30 orang, namun dua orang masing-masing dari Tanzania dan Palestina tidak jadi datang. 28 orang itu 1 orang dari Philipina, Vietnam, Nepal, Palestina, Afrika Selatan, Venezuela, Zimbabwe, Tunisia, Kenya, Jordania, Zambia, Honduras, sedangkan 2 orang masing-masing dari Indonesia (aku dan Yani), Thailand, Mongolia, Mesir, dan 3 orang dari Brazil, Cuba, dan Srilangka. Ramai dan seru!
Yuk foto bareng
Selama hampir 1 bulan harus berbahasa Inggris di antara kami, agaknya membuat kami-kami ”lelah”, sehingga secara alamiah dengan berjalannya waktu, tak terasa terbentuk tiga kelompok pengguna bahasa “ibu” yang sering berkomunikasi dengan bahasa mereka masing-masing. Kelompok pertama adalah kelompok dari Timur Tengah (jelas mereka memakai bahasa Arab), dari negara : Palestina, Tunisia, Mesir, dan Jordania. Kelompok kedua pengguna bahasa Portugis / Spanyol : Brazil, Venezuela, Honduras, Philipina, dan Cuba. Sedangkan kelompok ketiga yang kemudian terpecah juga menjadi dua lagi : Asia (Indonesia, Thailand, Vietnam, Nepal, Srilangka dan Mongolia) dan Afrika (Kenya, Zambia, Zimbabwe, dan Afrika Selatan). Kelompok ketiga ini konsisten memakai bahasa Inggris dan bahasa tubuh (hahaha...). Karena bahasa ”ibu” kami masing-masing berbeda namun ada satu kesamaan : sikap ramah tamah dan peduli. Namun sebenarnya kami trainee kompak semua. Selain dengan Yani, aku dekat dengan Udomphan dari Thailand, dan juga Maximo dari Honduras, sedangkan teman yang paling seru dan suka guyon yaitu Alberto dari Cuba. Dia selalu membuat semua tertawa, baik trainee maupun trainer-nya.
Usai pelatihan kami berbareng pulang satu bus, namun masing-masing berhenti di tempat yang mereka inginkan. Aku dan Yani pengen mengambil uang dulu dan menukarkan traveller check kami dengan uang Krona, sekalian jalan-jalan di sekitar Bank. Kawasan ini sudah tidak jauh dari Hotel. Kami dapat berjalan kaki. Sambil menuju ke Hotel, kami melewati toko-toko souvenir dan lukisan, dan tak lupa melewati Lilla Torg dan lurus ke Alun-alun. Melewati Lilla Torg menjadi kegiatan kami hampir setiap hari. Sayangnya, aku hanya membawa kamera ”sekedarnya” dan tidak begitu piawai memotret. Pemandangan dan sudut-sudut indah di sekitar ini luput dari jepretan saya. Terus terang saat itu masih ”kuper” walau sebenarnya sudah ada dorongan untuk selalu ingin mem-foto setiap sudut yang menarik. Hasilnya...tidak ada foto yang bagus dan tidak ada foto tanpa ada yang ”nempel” di situ alias selalu ada foto diri yang super duper narsis.
Di Hedmaska Garden, saat itu aku bertemu dengan seorang gadis cantik berwajah oriental yang berjalan dan berfoto-foto sendirian. Namanya Kay Lin, berasal dari Taiwan. Dan saat itu sedang jalan-jalan ke Malmo (dari Inggris) mengisi liburan musim semi. Dia kuliah di Oxford University, England, UK. “Aku senang bertemu dengan orang Indonesia di sini”, katanya. Akhirnya kita bergantian saling foto. Alhamdulillah, tambah kenalan baru dan tambah saudara.
Kay Lin, gadis Taiwan yang cantik
Lilla Torg
Lilla Torg ini semacam ruang terbuka yang biasanya digunakan untuk pasar. Lilla Torg dibangun pada tahun 1592, dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang rata-rata dibangun pada abad 16.
Setiap hari sabtu, hari libur ataupun saat matahari bersinar cerah (Sunny Day), Lilla torg akan berubah menjadi Open Air Market, atau pasar kaget. Yang dijual macam-macam, tapi kebanyakan adalah souvenir-souvenir antic karya seni. Artinya banyak sekali souvenir yang dijual tidak umum seperti anting dari tuts keyboard, atau gantungan kunci dari komponen elektronik bekas, atau patung yang disusun dari onderdil motor, aneh-aneh pokoknya.Yang rutin saya beli di sini adalah juice jeruk dan apel, dan juga kartu telpon (telpon kort). Boneka Pippy, boneka gadis cilik pirang berponi, berambut panjang berkepang dua, berpipi bintik-bintik, dan ber-rok kotak-kotak biru merah ini aku beli di di sini sebagai oleh-oleh untuk anakku yang saat itu masih belum genap berumur 1 tahun.
Lilla Torg
Hedmaska Garden
Oh ya tidak jauh dari Lilla Torg terdapat sebuah taman yang bernama Hedmaska Garden. Menurutku ini seperti Alun-alunnya Malmo. Ditempat ini di tanggal 1 Mei 1997 bersamaan dengan hari Buruh Internasional, ada keramian yang tadinya aku kira karnaval, kiranya selain ada peringatan hari Buruh juga dilakukan demo secara damai oleh Anggota Partai Buruh di sana. Mereka berbaris rapi, dan seperti sepakat untuk melakukan demo bisu, karena mereka kidmat berjalan beriringan, dan memutari patung raja berkuda dan kembali ke arah semula (tidak lurus ke Pelabuhan).
City Hall (Rathaus)
Terletak di kawasan alun-alun . Bangunan ini bergaya Dutch Renaissance dan dibangun pada tahun 1546.
Kamis, 3 April 1997
Hari itu Ultah Ibuku. Pagi-pagi tidak sempat menelpon beliau. Setelah masuk kelas dan mempelajari Audit Energi dan Pengukuran dan Kalibrasi Instrumentasi, kami kebagian untuk presentasi mengenai Indonesia dan Perusahaan kami. Sorenya sekitar jam 17.00 aku sempatkan menelpon Ibu ( di Semarang jam 22.00) untuk mengucapkan selamat ulang tahun (ehm…dari Swedia), dan juga mengirim kartu post ke nenekku. Kemudian jam 18.00, kami ada janjian ke World Maritime University, Malmo dengan berjalan kaki dari Hotel. Universitas ini lumayan dekat dengan Hotel kami. Jarak tempuhnya tak lebih dari 750 meter dari Hotel. Kami menjadi mahasiswa tamu di Universitas ini dan disambut oleh Mr. Jan Horch dari WMU.
Bersama teman-teman...berjalan kaki.
Di auditorium sudah menunggu 3 orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di MTU dan menyapa ramah kami. Langsung kami jadi akrab. Pratomo dari Pertamina, Nahduddin dari Kementerian Negara dan Faisal (?) dari PT Pelabuhan I. Keakraban di antara kami sempat ditanyakan oleh Asa, apakah kami berteman sebelumnya. ”Tidak, teman yang baru kenal di sini”, jawabku. Lho kok bisa akrab?. Tanya Ǻsa lagi. ”Begitulah, semangat persaudaraan kami tinggi, apalagi di negara orang”. Selanjutnya Ǻsa tidak bingung lagi saat aku bertemu dengan orang Indonesia dan kemudian saling menyapa bahkan berakrab-akrab ria.
MTU dibangun tahun 1983 dengan mahasiswa sebanyak 3000 yang berasal dari berbagai negara. Pelajaran di sini meliputi segala hal tentang ke-maritim-an, mulai dari kapalnya sampai lautnya. Universitas ini merupakan salah satu badan bentukkan IMO (International Maritime Organization) yang merupakan salah satu Badan resmi PBB. Beberapa mahasiswa berasal dari negara-negara berkembang dan dunia ketiga diperkenalkan sebagai mahasiswa-mahasiwa terpandai di Fakultasnya. Jadi kepengen kuliah lagi nih (alhamdulillah, terwujud di tahun 1999, walau ”hanya” di dalam negeri).
Oh iya, ruang kampus atau auditorium besar MTU berjendela lebar. Sore itu langit masih terlihat terang benderang, bahkan jam 21.00-pu langit masih terlihat cerah ceria. Awan dan semburat sinar matahari yang berwarna oranye terlihat jelas dari jendela. Senang juga kalau kuliah dengan suasana seperti ini. Kuliah sampai malampun tidak terasa. Yang terasa hanya kok tiba-tiba mata berat dan ngantuk.
Jum’at, 4 April 1997
Kuliah sampai sore mengenai Pembakaran dan Efisiensi Boiler. Pulang tetap jam 16.30. Sorenya kami mencoba berkeliling ke pertokoan di kota Malmo. Kiranya pertokoan di Malmo sudah tutup di sore hari. Jam 17.00 pintu-pintu toko benar-benar sudah terkunci. Jadinya kami jalan-jalan ke Lilli Torg dan alun-alun...lagi! Dijemput Pratomo Cs dan diajak ke rumah Mbak Sri. Di sana sudah disiapin soup kepala ikan dan sudah menunggu teman-teman yang lain dari Indonesia maupun orang Swedia keturunan Indonesia. Terharu dan trenyuh juga. Info dari Mbak Sri, bahwa persaudaraan orang-orang Indonesia memang erat di Malmo ini, bahkan di Swedia dan Norwegia.
Di Apartemen Mbak Sri (duduk dekat jendela)
Berkumpul...ceria semua.
Sabtu, 5 April 1997
Hari ini bebas. Kami terpikir untuk ke Copenhagen. Pelabuhan penyeberangan atau pelabuhan ferry juga cukup dekat dari Hotel. Kami melintasi patung Raja Berkuda dan kemudian lurus ke arah barat, melewati beberapa gedung dan sampailah di pelabuhan ini. Lagi-lagi tidak sampai 750 meter dari Hotel. Dari alun-alun kawasan pelabuhan ini juga terlihat.
Kami naik ferry yang cepat sekali penuh itu dengan membayar sekitar SEK 80. Kami melintasi Danau Oresund (dan laut Baltik) menuju ke Kopenhagen. Diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di Kopenhagen. Dari arah Malmo, kota Kopenhagen terlihat megah. Dari jauh terlihat gedung-gedung tinggi, dan lagi-lagi berbata merah. Terlihat juga gudang-gudang pelabuhan. Patung Putri Duyung atau The Little Mermaid atau Den Lille Havrue terlihat sebagai seseorang yang sedang melamun di pinggir pantai Copenhagen.
Kartu pos bergambar Patung Den Lille Havrue
Kami turun di pelabuhan ferry Copenhagen (jelas dong). Dan pelabuhan Copenhagen juga terletak di sini. Terlihat banyak container-container yang menumpuk di Pelabuhan. Pelabuhan ini tidak begitu ramai. Menurutku malah terlihat sepi. Kami sempat menanyakan ke seseorang, bagaimana caranya ke pusat kota Kopenhagen. Dijawab, tidak perlu naik apa-apa, dan silahkan jalan kaki saja ke kiri, kemudian ke kanan, dan lurus. Sekian blok dari situ akan sampai di pusat kota. Tadinya kami ingin naik alat transportasi umum, tetapi akhirnya kami putuskan berjalan kaki saja karena kami sore harus langsung balik ek Malmo. Pokoknya tergantung seberapa jauh dan seberapa kuat kaki ini melangkah.
Kami berjalan ke arah kiri, kemudian melewati gedung-gedung kuno yang megah. Kami sempat foto-foto di situ, dan kelihatannya kameraku ada masalah. Film-nya tidak bisa mutar setiap di-klik. Ya Allah, bagaimana ini. Yang penting jalan-jalan saja deh. Kami terus berjalan (agak gundah juga, karena kemara ngadat). Kami masuk kawasan bekas tempat tinggal HC Andersen, dan konon jalan atau gang itu pernah ditinggali HC Andersen. Gang atau jalan yang relatif sempit tersebut cukup ramai dan didatangi oleh para pelancong dalam maupun luar negeri. Banyak toko-toko souvenir dan boneka yang lucu. Aku tertarik membeli manekin yang berbaju ala jaman dulu dengan kawat melingkar di pinggangnya. Boneka ladys ini berwarna hijau bergaris-garis putih..Terlihat sangat anggun.
Di lorong Pelabuhan Kobenhaven (Kopenhagen) Denmark
Kaki terus melangkah, dan sampailah kami di pusat keramaian Copenhagen. Terlihat gereja yang megah, dan banyak orang berfoto-foto didepannya. Aku ikut-ikutan foto di situ. Di depan gereja, terlihat bundaran air mancur, dan ada beberapa orang duduk-duduk di tembok pinggirnya. Asyik juga. Ikut ah. Sambil berbincang-bincang dengan orang yang ada di situ, kami melihat ada tour information di depan sana. Kami ambil brosur saja, karena petugasnya sedang sibuk. Lokasi kerajaan cukup dekat dari tempat kami, tetapi temanku tidak tertarik. Kami memilihTaman Bermain Tivoli yang letaknya di sekitaran bundaran ini. Letak taman Tivoli ada di depan Stasiun Kereta Api Pusat Kopenhagen (Københavns Hovedbanegård) yang terlihat tradisional beratap kayu. Di Taman Bermain Tivoli banyak mainan seperti di Dufan Jakarta. Ada istana boneka, ada permnainan semacam ontang-anting, roller coaster, dsb-nya. Akhirnya kami naik ke wahana-wahana tersebut dengan niat melepas lelah (dan istirahat karena terus-terusan berjalan kaki) dan bergembira seperti anak-anak lagi...horee....!!!. Sebagai tanda bahwa kami pernah mampir ke Copenhagen, aku membeli gelas mungil murah meriah yang banyak dijual di Taman Tivoli sebagai souvenir.
Pelabuhan Kopenhagen (diambil dari blog foto)
Hari itu kami habiskan dengan memutari kawasan kota lama Copenhagen yang khas Eropa banget : ada gereja, gedung pemerintahan, bank, stasiun kereta api, taman hiburan dan pelabuhan. (Persis daerah Mberok, Kota Lama Semarang). Dan tatanan ini juga kamo temui (selain di Malmo), juga di Goteborg, Stockholm, maupun Oslo. Mungkin ini tatanan seragam gaya Renaissance.
Kami balik kembali ke Pelabuhan sekitar jam 16.00, sampai di Malmo sekitar jam 17.00.
Note : Terus terang di Copenhagen ini kami seperti orang hilang saja, karena keterbatasan waktu dan tanpa banyak persiapan ke sini. Lagian kameraku ngadat. Ada keinginan untuk balik ke sini lagi (selama di Swedia) kalau memungkinkan. Namun karena sesuatu sebab, keinginan ini tidak jadi terlaksana.
Minggu, 6 April 1997
Hari Minggu tersebut disediakan bus khusus oleh panitia untuk kami Tour keliling provinsi Skane. Kota yang termasuk provinsi Skane adalah Malmo dan Lund. Perjalanan bus pertama kali melewati kanal yang airnya bersih dari kotoran dan sampah, kemudian ke keramaian kota dan pasar Malmo.
Malmo Canal
Saking bersihnya sungai dari limbah, di atas permukaan kanal terlihat sepeda yang nyemplung ke dalamnya. Di Norra Vallgatan kita dapat naik boat menyusuri Malmo Canal. Selanjutnya kami menuju ke ke kawasan Perjalanan menaiki boat tersebut memerlukan waktu kurang lebih 45 menit ini, dan akan ditemani guide. Jadi ingat sungai Banjir Kanal Barat yang terletak di dekar rumahku di Semarang. Hanya bedanya sungai BanjirKanal Barat berwarna seperti susu coklat, kalau di sini mirip air sumur.
Teknologi pengolahan air dan limbah sudah sangat maju di Swedia. Mereka sudah lama memisahkan sampah dalam tiga wadah yang berbeda untuk sampah organik, anorganik, dan limbah lain. Air kran bisa diminum. Air yang kita pakai mandi (mengandung deterjen) akan disalurkan ke tempat khusus, kemudian diolah kembali menjadi air yang dapat dipakai kembali atau diminum. Diinfokan bahwa pencemaran tanah, air, dan laut telah diusahakan sekecil mungkin di negeri ini. Konon saat ini Malmo termasuk 5 kota terbersih di dunia.
Kemudian kami diajak ke suatu bangunan megah (sampai saat ini aku tidak ingat ini gedung apa ya?) yang dikelilingi pohon-pohon besar. Saat itu turun salju, dan butiran salju putih jatuh memenuhi sekitaran halaman gedung. Berhubung kami semua berasal dari daerah yang jarang ada salju, maka secara spontan terjadilah aksi saling lempar bola salju. Dimulai oleh Rafiq, teman kami dari Palestina yang melempar temannya dengan gaya lemparan intifadah, yang lainnya jadi ikutan melempar. Jadinya saling lempar. Seru, sekaligus kekanak-kanakan. Tidak apa-apa, untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk saat itu.
Kemudian perjalanan dilanjutkan keluar kota menuju kota Lund yang terlihat sebagai kota kecil yang damai dan asri. Ada bangunan universitas yang megah yaitu Lund University, Jalanan sepanjang Malmo dan Lund lebar dan sepi, Kendaraan tidak sepadat di Jawa.
Setelah mengeliling kawasan Skane yang asri, akhirnya kami kembali ke Malmo dan diturunkan di tempat yang kami inginkan.
Note : Huruf vocal di Swedia ditulis dengan bantuan titik dua, koma, bulatan dsb-nya. Malmo seharusnya ditulis Malmö. Asa ditulis Ǻsa, dsb-nya. Tambahan tanda di atas seperti itu menekankan bahwa huruf tersebut dibaca penuh, agak panjang dan dalam.
(to be continued to part 3)
Semua ceritaku ini aku tulis kembali setelah membongkar tiga map besar yang berisi jadwal dan makalah seminar maupun buku catatanku yang terdapat coretan-coretan perihal kegiatanku selama di sana.
Bontang, 07 Agustus 2011.




















